KH. Idham Chalid Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

(alm) KH Dr. Idham Chalid, salah satu tokoh asal Kalimantan Selatan yang namanya terkenal di Indonesia yang pernah menjabat Ketum PBNU (Nahdlatul Ulama), Ketua DPR masa Presiden Soekarno, dan Pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Selasa, 8 November 2011, dua hari sebelum Hari Pahlawan.

Seperti nama tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi buat negara diabadikan menjadi nama fasilitas umum, kayak gedung, jalan dan banyak lagi. KH Dr. Idham Chalid diabadikan namanya di gedung serbaguna sekretariat Kantor Gubernur Kalimantan Selatan yang baru di Banjarbaru.

Sedikit profil tentang beliau, moga menginspirasi kita semua. Amin

Idham Chalid adalah tokoh agama, tokoh bangsa, dan tokoh organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Idham Chalid memiliki otak cerdas dan bakat orator yang luar biasa, itu terlihat sejak duduk di Sekolah Rakyat (SR). Tak ayal ia pun sering mengalami akselarasi alias melompat naik kelas karena dinilai memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Masa pendidikan di SR hanya dilalui empat tahun. Begitu pula saat menempuh pendidikan di Pesantren Modern Gontor Ponorogo, ia berhasil lulus dua tahun lebih cepat dari kebanyakan santri lainnya. Sejak berkiprah dari remaja, karier tokoh kelahiran Setui, Kalimantan Selatan 27 Agustus 1922 itu, di PBNU terus menanjak. Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi (1950), ia menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan.

Sementara itu, ia juga menjadi anggota DPR RIS (1949-1950). Dua tahun kemudian, Idham terpilih menjadi Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (1952-1956). Kemudian, ia dipilih menjadi orang nomor satu NU pada 1956. Bahkan, Idham merupakan orang yang terlama menjabat Ketua Umum PBNU selama 30 tahun.

Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru. Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, ia menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan setelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1971-1977.
Sebelumnya, pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II, ia juga menjabat sebagai wakil PM. Dalam posisi pemerintahan, beliau pernah juga mengemban tugas sebagai Ketua DPA.

Ulama besar NU itu juga merupakan tokoh yang telah berhasil mencetak banyak muballigh kondang termasuk Kiai Syukron Makmun dan KH Zaenuddin MZ.

Idham Chalid meninggal dunia pada usia 88 tahun. Ia meninggal di kediamannya di kawasan pendidikan Darrul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, Minggu 11 Juli 2010, pukul 08.00, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir. aIa dimakamkan Senin (12/7) di Pondok Pesantren Darul Quran, milik keluarga, di Cisarua, Jawa Barat. KH Dr Idham Chalid meninggalkan isteri, anak dan sejumlah cucu.

 

KH. Dr. Idham Chalid (sumber: Google Images)

 

6 thoughts on “KH. Idham Chalid Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Anti Spam by WP-SpamShield