Malam Selikuran di Banjarmasin

Tradisi tanglong di Kal-Sel muncul sejak masuknya agama Islam di kota Banjarmasin, dulu namanya bukan tanglong melainkan badadamaran yang artinya menyalakan lampu dari getah pohon damar, namun semakin langkanya getah damar maka berganti dengan lampu-lampu yang terbuat dari sumbu dan botol sirup yang dipajang dihalaman rumah sejak malam ke 21 ramadhan sampai malam lebaran, sebab umat Islammeyakini bahwa Allah menurunkan malam seribu bulan-Nya (Lailatu Qadar) pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir berpuasa.

Semakin maju zaman, sekarang tidak nampak lagi lampu-lampu tradisional terbuat dari sumbu dan botol sirup, melainkan sudah memakai lampion-lampion raksasa yang dihias dengan bentuk yang mencerminkan lambang keislaman seperti masjid, ka’bah, dan lainnya, inilah yang disebut tanglong.
Biasanya Tanglong itu dirayakan tidak hanya dengan mengadakan festival lampu Hias (Tanglong) saja, tetapi juga dengan arak-arakan model orang membangunkan sahur (bagarakan Sahur) “sahur-sahur-sahur-sahur” tentu dengan cara yang berbeda masing-masing kelompok, tergantung kreatifitas.
Untuk tahun ini lomba yang diadakan di Banjarmasin tidak beda dengan tahun kemarin yaitu lomba Tanglong (Lampu Hias) dan Arak-arakan Sahur serta Lomba Fotografi dengan Tema yang sama.
Aku hanya berharap, semoga tradisi ini semakin tahun semakin meriah. tentu semua pihak harus ikut berpartisipasi dalam meramaikannya, berbagai macam lomba yang diadakan sudah tentu membuat acara ini semakin semarak, apalagi hadiahnya menggoda,,hehe,,,

One thought on “Malam Selikuran di Banjarmasin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments Protected by WP-SpamShield Spam Blocker